Semangat Secangkir Kopi, Untuk Menjadi Gravitasi Hidup Sehat

Apr 20, 2017

Pagi itu, sekitar pukul 5 pagi setelah pulang dari masjid menjalankan kewajiban shalat, saya mampir sebentar ke warung Bu Tum dekat tempat tinggal saya. Dengan memakai sarung dan tentu saja songkok warna hitam, saya duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. “Bu, pesen kopi ireng nggih” ucap saya memesan minuman kepada penjual. Suasana pagi itu agak gerimis. Angin  membawa dinginnya udara pagi yang segar penuh oksigen merasuk hingga paru-paru terdalam sukma. Mantap jiwa.

Terlihat Pak Jun suami Bu Tum sedang mengangkat pisang goreng menggunakan “sotel” (alat untuk mengangkat gorengan yang bentuknya berlubang, entah apa nama barang antik ini ditempatmu ). Dari pisang goreng itu keluar asap putih, yang mengundang lidah ini untuk segera mencumbunya. Saya mengambil satu pisang goreng lalu mencicipinya. Dan benar saja, saya gemeteran. Sungguh diberkatilah saya pada pagi itu. Pisang goreng yang masih panas, yang terbuat dari Pisang Kepok yang begitu aduhai rasanya. Ditemani dengan secangkir kopi hitam, duh andai saja dunia bisa di pause sebentar, mungkin saya akan berhenti lebih lama di waktu itu. Dan tentu saja sambil membayangkan Mbak Dian Sastro menyuapi saya.

Kopi Hitam dan Pisang Goreng

“Mas, pagi ini mau joging nggak?” Tanya Pak Jun kepada saya. “Belum tahu nanti Pak, kalau masih hujan ya mungkin besok saja atau nanti sore” saya memang setiap pagi, tiga kali seminggu selalu menyempatkan waktu untuk berolahraga, salah satunya lari pagi. Biasanya melewati warung beliau, menuju ke embung ( waduk skala kecil ) di sekitar tempat tinggal. Setelah ngobrol kesana-kesini dan kopi sudah habis, saya memutuskan untuk pulang. Tak disangka, saya habis 5 pisang goreng. Haha

Lari Pagi, Cara Paling Murah Untuk Hidup Sehat

lari pagi

Pernah ada yang bertanya, mengapa saya sering bersemangat ketika kuliah, maka salah satu jawabannya adalah karena lari pagi. Lari pagi bagi saya adalah kemenangan yang hakiki oleh gejolak rasa malas dan niat untuk hidup sehat. Setiap malam, sebelum tidur saya selalu merencanakan untuk berlari pada esoknya. Namun ketika bangun, alamak.. rasa malas dan empuknya kasur dikala pagi seakan menarik-narik tubuhku untuk lanjut tidur, haha. Namun, pagi itu sepertinya kasur harus menyadari kekalahannya, saya memilih untuk berlari.

Saya ikat tali sepatu dengan kencang, kemudian melakukan peregangan sederhana. Saya tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan pelan-pelan. Dengan mantap saya berlari pelan menyusuri jalanan gang-gang di Yogyakarta. Terlihat ibu-ibu membawa tas belanja berlalu-lalang mau ke pasar. Saya berjumpa juga dengan penjual bubur kacang hijau keliling. Saya menyapanya “monggo Pak” yang artinya permisi dalam bahasa jawa.

Pagi itu saya berlari sejauh dua putaran mengelilingi embung Tambakboyo, yang jika di total kira-kira empat kilometer jauhnya. Keringat yang membasahi tubuh memberi kesegaran tersendiri bagi saya. Dan ini juga adalah sumber kekuatan saya untuk menghadapi hari yang melelahkan. Dan sekaligus alasan kuat untuk selfie pakai kamera depan Luna dengan latar belakang matahari terbit.

Semua Berawal dari Ulang Tahunku Ke-20

friendship

Pada ulang tahun saya kemarin, sebagai simbol melawan rasa malas, dan di dasari karena saya juga menyukai olahraga lari, saya mencoba merayakan ulang tahun kali ini dengan berlari sejauh usia saya. Ya, 20 Km sesuai dengan 20 tahun usiaku. Itu bukan jarak yang pendek tentu saja, apalagi bagi saya belum pernah berlari sejauh itu. Paling jauh saya berlari adalah 17 Km ketika tanggal 17 Agustus tahun lalu. Saya pikir, wah saya akan dibilang gila kalau saya berlari sejauh itu sendirian. Nanti kalo saya pingsan siapa yang mau menolong?. Kehawatiran-kehawatiran itu yang akhirnya memberikan saya ide untuk mengajak teman-teman kelas.

Kemudian saya membuat panitia kecil-kecilan, dapat seorang teman saya, Dedy namanya. Dia saya beri tugas untuk dokumentasi sekaligus tim support, yang akan memberi minuman di sepanjang jalan. Kemudian setelah tim support dapat, saya mencoba merayu teman-teman saya. Dengan iming-iming “kalah dirimu sendiri” yang berarti lawan rasa malasmu dan lawan titik lelahmu, akhirnya saya dapat tiga orang khilaf yang mau ikut. Dia adalah Dony, Ilham Suaib, dan Ilham Padang. Berawal dari semangat secangkir kopi, dari sinilah cerita menjadi Gravitasiku dimulai.

Dari Sini Gravitasiku Berasal

Tepat pukul 5.30 pagi, kami sampai di titik start. Di perempatan Kentungan namanya. Rencananya kami akan berlari sejauh 21 Km, menuju lereng gunung Merapi. Gila, Half-Maratahon! Bagi kami yang belum pernah melakukannya, ini sangat menakutkan.

Awal-awal perjalanan sangat asyik, udara yang sejuk serta awan mendung memayungi, seakan dia berpihak pada kami. Namun setelah kilometer 10, halangan mulai datang. Ilham Padang kakinya cedera, dia sudah tak sanggup lagi berlari. Saya, Ilham Suaib dan Dony dehidrasi, sedangkan tim support tidak ada. Kami terkapar di depan toko disebuah pasar. Untung saja saya sedia uang sebelumnya, beli minum, lalu lanjutkan perjalanan. Kami sadar, kami harus mengejar waktu. Karena jika kami istirahat terlalu lama, maka tubuh kami akan lemas dan mustahil untuk sampai ke finish.

Setelah mungkin 5 jam perjalanan, saya bisa melihat garis finish, yang merupakan gapura masuk Tlogo Putri. Saya tunggu teman-teman untuk bisa finish bareng. Dan dengan bangga, kami telah berhasil berlari menempuh jarak 21 Km dan itu menanjak!

Sampai disana kami foto-foto sebentar, lalu pesan sate kambing Mbak Nala. Tak lupa upload ke Instagram. Haha. Untung saja Smartphone Luna cukup baik menangkap sinyal. Jadi walaupun di pegunungan saya masih tetap bisa upload foto. 😀

Menjadi Gravitasi bersama Luna Smartphone

Dari hal sederhana seperti berlari ketika pagi, dan mengajak teman ketika akan berlari, secara tak sadar saya telah menjadi Gravitasi untuk hidup sehat bagi mereka. Hidup sehat seakan seperti Oasis di gurun pasir di era millenial saat ini. Dimana praktis adalah hal yang paling dicari, sehat-pun jauh panggang daripada api.

Saya sadar, kini media sosial dapat memberi dampak yang luar biasa kepada seseorang. Maka dengan Luna Smartphone yang memiliki kamera auto focus serta memiliki dual led, saya bisa dengan maksimal menyebarkan virus lari kepada semua orang. Dengan fitur High Speed Camera, saya bisa memotret ketika berlari dengan hasil yang bagus tanpa blur. Ditambah dengan dukungan sinyal LTE, saya bisa lebih cepat untuk upload di sosial media. Selain itu, dengan penyimpanan sebesar 64 GB saya lebih leluasa untuk menginstall aplikasi pendukung lari, agar saya bisa memantai progress saya selama ini. Oh ya,mohon doa restu. Besok Minggu saya bersama teman-teman yang saya ceritakan diatas akan ikut lomba Mandiri Jogja Maratahon. Semoga bisa finish strong biar bisa banyakin foto pake Smartphone Luna.

Semoga ikhtiar saya untuk menebarkan virus lari, mengajak dari teman terdekat untuk berlari, semakin menambah tinggi angka produktivitas masyarakat Indonesia. Karena negara bisa maju hanya jika warganya hidup sehat dan semangat setiap harinya.

Salam Luna Smartphone, Salam Sehat!

#BeTheGravity #SmartphoneLUNA

credit: gambar dari Ahmad

Adjie Purbojati

Innovation Enthusiast

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.